Hanya menumpang
Ketika kita memikirkan anak kita, maka kita gak bisa hanya
berpikir tentang dia. Bagaimana dgn teman-temannya? Gurunya? Lingkungannya? Masa
depannya?
Ketika kita mulai berpikir tentang dunia, manusia, maka kita
selalu dikembalikan pada asal muasal kita. Dari negara mana? Bangsa mana?
Pernah makan roti?
Setahun saya tinggal di negeri orang. Negara maju yg
memiliki segalanya.
Setahun menikmati fasilitas yg mempermudah hidup
sehari-hari.
Monorel on time, fending machine, lift dan eskalator di tiap
stasiun, toilet umum bersih yg gak bayar lagi dan selalu bertisu.
Keamanan 24 jam, kebebasan berpenampilan tanpa intaian
kriminil ataupun suitan pengangguran di jalanan.
Akses informasi ter-update, sign system yg ramah, dan segala
urusan surat2 ijin tanpa pungli. Bahkan warga asing turut menerima dana
tunjangan hidup utk anak.
Betapa praktisnya. Sungguh nyaman.
Tapi saya hanya menumpang.
Pemerintah Jepang sudah melapangkan trotoar dan
menyingkirkan segala kerikil2 dlm perjalanan warganya menuju tempat bekerja dan
beraktivitas.
Silakan berpikir tentang hal2 penting saja. Leptop setipis
amplop, mobil listrik, robot pelayan, tomat rasa coklat, dan baling2 bambu.
Negara sudah membuat aturan struktur bangunan utk rumah dan
gedung anti gempa.
Ayo, tinggalkan rumah dan pergilah shopping ke pertokoan. Belilah
perabotan mahal agar tak mudah rusak dan kalian tak perlu sering2 keluar uang
utk membuangnya. Pilihlah pakaian tercantik yg kalian suka. Be kawaii as hell.
Tenang, kita gak
memboroskan sumber daya alam kok. Toh sisanya kita lempar ke pasar asia tenggara.
Jangan lupa, boronglah komik juga, main ke pachinko, dan
minum2 ke bar.
Maaf, memang harga2 di sini sedikit mahal, tapi petani dan
nelayan kita gak ada yg miskin.
Dengan berbelanja dan menikmati hidup, kita berbuat baik,
karena roda perekonomian negara kita dan jg dunia akan terus berputar. Pajak
mengalir ke kas negara kita.
Nanti sebagian kita sumbang utk pendidikan anak2 sekolah negara miskin yg menyanyikan lagu potong bebek angsa itu.
Nanti kita bangun jalur2 monorel lg ke sini dan ke sana. Para pengusaha property bersiaplah utk membangun mansyon2 dan mall2 baru di stasiun2
baru.
Betapa optimisnya. Begitu bergairah.
Dan sy ini sekali lg, hanya menumpang.
Semua faslitas ini, semua kenyamanan ini, dibuat pemerintah
Jepang ya utk warganya. Untuk orang Jepang. Untuk anak2 Jepang. Mereka yg hapal
huruf kanji Jepang dan menghormat saat bendera Jepang dikibarkan.
Saya heran, negara sekecil pulau Jawa ini, begitu banyak
mengimport TKI dari negara sy. Sementara di Jawa sendiri msh buanyak sekali
pengangguran.
Bila tiba saatnya Jepang gak lg membutuhkan TKI dan malah
membanjiri dunia dgn robot2 manusianya, sy ngeri membayangkan bencana
pengangguran di negara sy di masa yg akan datang.
Lalu anak sy, si oKan, harus ikut bersikut-sikutan di antara
mereka.
Maklum sy bukan dari kalangan bisnisman tajir atau keluarga
pejabat berkoneksi yg bisa menjamin keturunan sy mendapat pekerjaan impiannya.
Namun kalau kita semua berpikir putra2 bangsa yg pintar
selalu punya tempat di luar negeri, lalu apa jadinya negara saya?
Kenapa sih kita gak bikin aja hujan emas di negri sendiri?
Gimana caranya biar sy jg bisa merasakan kenyamanan yg sama
di negara saya?
Kan gak enak numpang terus. Malu!
Shonandai, Februari 2008
February 5th, 2008 at 6:42 pm
Itulah, Al…seindah2nya negeri orang, negeri sendiri jauh lebih indah kok. Itu sebabnya aku selalu kangeun… kepengen pulang. Tp tergantung dr sisi mana kita memandang sih kyknya. Coba deh, Al…meski negaranya “indah” kayak gini, kenapa juga banyak penduduknya yg kepengen cepet2 pergi dr dunia alias bunuh diri? Ironis yah…Btw, aku yakin kok msh byk org Ina yg pinter2 (meski nyari kepinteran dgn jln “numpang” di negara org) akan kembali ke negara kita…buat ngasih sumbangan, sekecil apapun itu…^_^
February 9th, 2008 at 4:31 pm
Sepakat….
dua tahun di aussie… aku juga ngerasa yang sama + plus ilmu menyabarkan hati buat ga ngegampar bule bule yang jijik sama kulit yang ga putih itu….
kata adikku yang lagi numpang juga di negeri yang sama tempatmu…. baru ragi tempe yang dipaten orang sono….sepuluh tahun lagi?
salah satu sebab aku memilih bekerja di daerah…., bahkan di jakarta pun TIDAK!
February 10th, 2008 at 3:05 am
BRAVOOO WISSS MY MAN…!!! HIDUP SEMARANG…!!!
March 6th, 2008 at 7:47 am
Sama perasaannya sama saya. Tapi sebagai manusia normal, sepertinya saya cenderung untuk penghidupan yang lebih baik. Karena itu saya ingin tinggal selama-lamanya di luar negeri saja.
Tapi saya akan tetap memberikan sumbangsih bagi negara dengan menolong satwa langka dan hewan2 terlantar di Indonesia dan menulis textbook engineering untuk mahasiswa Indonesia
Hidup itu untuk cari bahagia,bukan cari susah.
Wassalam